1.ANNYONGKO JANGAN (Mengurung Ayam), tujuh hari sebelum ayam untuk MAUDU/maulid di potong/disembelih maka terlebih dahulu ayam tersebut dikurung agar terhindar atau tidak memakan makanan kotor atau bernajis, ayam tersebut hanya diberi makanan berupa jagung atau beras, ayam tersebut harus ayam jantang perkasa yang sudah bisa berkokok, JANGAN BULENG (bulunya berwama putih bersih, kulit kakinya berwama kuning keemasan), ayam yang pertama dipotong dalam sejarah MAUDU/Maulid Barakkaka berasal dari kampung LANNA sekarang Galesong Kota milik I Palembanawa Daeng Tulung ayah kandung Imandura Daeng Tulolo Daengta Bodo-Bodo Lanna/Galesong.
2.A'MATE JANGAN (Penyembelihan Ayam), dilaksanakan satu hari sebelum pelaksanaan MAUDU/Maulid, dalam penyembelihan ini biasanya dipercayakan kepada Tokoh Agama pilihan, yang pada akhirnya ayam tersebut digoreng dengan menggunakan Minyak Kelapa yang ditanak. ATTANAK adalah rangkaian MAUDU untuk membuat minyak dari kelapa untuk menggoreng ayam tersebut.
3.KADDO/KANRE BARAKKA, adalah Nasi yang setengah masak kemudian dikeringkan sehingga agak keras dan tidak mudah basi.
4.BAKU MAUDU, adalah sebuah bakul yang dianyam dari daun Lontara yang berwarna putih dengan ukuran PATANGGANTANG (4 X 4 liter) yang mencerminkan bahwa unsur yang terdapat dalam tubuh manusia terdiri dari 4 unsur yakni : PEPE, ANGIN, JE'NE, BUTTA (Api, Angin, Air dan Tanah) - TUBU, HATI, NYAWA, RAHASIA - SYARI'AH, TARIKAT, HAKIKAT dan MA'RIFAT.
5.AMMONE BAKU, dilaksanakan oleh orang pilihan pada pagi hari pelaksanaan MAUDU BARAKKAKA yakni mengisi bakul dengan Kaddo Barakka, ayam dan telur serta beberapa jenis barang lainnya.
6.ATRATE, adalah acara ritual yang dilaksanakan sekelompok orang (7 orang) pada hari pelaksanaan Maudu Barakkaka.
7.ATREBBO BAYAO, kegiatan yang dilaksanakan oleh keluarga atau masyarakat umum untuk mendapatkan telur yang berjumlah 30 biji di bagian luar bakul karena diyakini bisa membawa berkah, telur 30 biji disesuaikan dengan jumlah Juz dalam Al-Qur’an. Inilah awal mula sehingga setiap akan berakhir ritual Atrate ditandai dengan Atrebbo Bayao/berebut telur baik dalam pelaksanaan Maudu Barakka maupun maulid lainnya dimana saja.
MAUDU BARAKKAKA secara turun temurun dan berturut-turut dilaksanakan oleh Muhammad Ali Daeng Sitaba kemudian dilanjutkan oleh Cucunya I Mabbau Daeng Ngeppe (Putra dari I Mandura Daeng Tulolo/Daengta Bodo-bodo di Lanna/Galesong) wafat di Salaparang Sumbawa kemudian dilanjutkan oleh putranya I Mangrokkoki Daeng Tutu kemudian dilanjutkan oleh putranya Sindawa Daeng Tarang (Gugur dalam perjuangan Kemerdekaan RI bersama kerabat dan pengawalnya pada tanggal 3 Maret 1946 oleh kekejaman Tentara Belanda Pimpinan Raymond Wasterling) sejak itu MAUDU BARAKKAKA dilaksanakan sangat sederhana oleh keluarga yang ditinggalkan yakni I Mangrokkoki/Muhammad Adam Daeng Tutu kemudian kepada adiknya Tarigu Daeng Tarring. Tradisi Bakul tetap ada tetapi hanya dihadiri keluarga dekat saja dengan istilah ATTOANA/APPIDALLEKI nanti pada tahun 2001 tradisi MAUDU BARAKKA kembali dihidupkan dan memeriahkan oleh putranya yakni Sindawa Daeng Tarang, SH, MM (Kepala Desa Mangindara) sekarang ini. Mangindara adalah sebuah wilayah yang sebenarnya tinggal nama saja, karena sejak 50/60 tahun yang lalu sudah menjadi laut tetapi untuk mengenang sejarah terutama keberadaan Galesong maka diabadikan namanya menjadi sebuah desa (Desa Mangindara).
MAUDU BARAKKA sudah menjadi adat istiadat dan tradisi budaya yang tumbuh dan berkembang di masyarakat, yang pelaksanaannya sudah teragenda tetap yang setiap hari Sabtu terakhir bulan Rabiul Awal setiap tahun (menyesuaikan awal mula pelaksanaan Maudu tersebut) dikediaman keturunan Daengta Mangindara yang disepakati, MAUDU ini selalu mendapat perhatian dari Pemerintah.
a.Pada tahun 2005 dihadiri Wakil Ketua MPR RI (Bapak H. M. Aksa Mahmud) bersama Pemerintah Kabupaten Takalar.
b.Pada tahun 2006 dihadiri Bapak Gubernur Sulawesi Selatan (H. M. Amin Syam), wakil Bupati Takalar, Ibu Bupati Takalar dan para MUSPIDA.
c.Pada tahun 2007 dihadiri Kepala BALITBANG Dep. Pendidikan Nasional, (Prof. DR. H. Mansyur Ramli) Asisten II Propinsi Sulawesi Selatan (Prof. H. B. Amiruddin Maula, M.Si) An. Gubernur , PEMDA Takalar dan para MUSPIDA.
d.Pada tahun 2008 dan 2009 dihadiri oleh Bapak Bupati Takalar bersama unsur Muspida.
Demikianlah riwayat yang sangat singkat ini, yang sebenarnya masih sangat banyak uraian dan makna yang terkandung di dalam MAUDU BARAKKAKA tapi tidak sempat diuraikan lebih jauh, terima kasih.


16.11
Unknown